OBJEK WISATA DI BANGKA BARAT
Hay Blogger'S Kali Ini Saya akan Memposting beberapa Objek Wisata di bangka Barat,Ayo Di Baca Yah
Mercusuar Tanjung Kalian
Mercusuar yang berdiri tegar dan kokoh di Tanjung
Kalian adalah sebuah sarana penyelamat lalu lintas kapal yang di bangun
oleh Belanda pada tahun 1862. Mercusuar ini memiliki ketinggian lebih
kurang 65 m dan terdiri dari 16 pantai. Dari puncak menara, keindahan se
keliling dapat terlihat. Ke arah barat, tampak Pantai Tanjung Kalian
dengan pasir yang putih sepanjang lebih kurang 5 km. Ke sebelah timur,
tampak pelabuhan tua kota Muntok. Di waktu malam, sinar lampu mercusuar
ini dapat terlihat dengan jelas dengan radius 5 km dari arah laut,
sebagai markas jalur kapal-kapal yang melintas.
Pesanggerahan Menumbing
Bangunan Pesanggrahan Menumbing terletak
di Bukit Menumbing, Muntok kab. Bangka Barat, sebuah kastil yang
dibangun pada masa penjajahan Belanda di ketinggian 445 m dpl. Komplek
villa atau pesanggrahan peristirahatan pegawai perusahaan timah Banka
Tinwinning bedriff ini diperkirakan dibangun pada tahun 1927. Tempat ini
dulu dijadikan tempat pengasingan tokoh-tokoh kemerdekaan (Bung Hatta,
Mr. Pringgodigdo, Komodor Surya Darma, Mr. Asa'at, Mr. Ali
Sastroamidjojo, Mr. Moch Roem, sejak tanggal 22 Desember 1948 s.d. 7
Juli 1949 pada masa pasca kemerdekaan RI. Pesanggrahan ini memiliki dua
bangunan utama dan didukung dengan beberapa fasilitas umum, seperti
penginapan, lapangan tenis, karaoke keluarga, sport track, kolam renang.
Wisma Ranggam
Kota Mentok yang pernah menjadi ibukota
pemerintahan Pulau Bangka di masa lalu dengan perjalanan sejarahnya yang
panjang meninggalkan banyak bangunan kolonial Masa penjajahan Belanda.
Belanda berkuasa sangat lama dan melakukan eksplorasi timah secara
besar-besaran. Pertambangan timah di pulau ini mendorong pekerja tambang
dari luar terutama Cina berdatangan dan menetap ke Pulau Bangka. Hal
ini terlihat dari bangunan purbakala dan peninggalan lainnya yang banyak
terdapat di Mentok bernuansa kolonial dan Cina.
Bangunan Kolonial yang terdapat di Kota
Mentok salah satunya adalah Wisma Ranggam. Wisma Ranggam dahulunya
bernama Pesanggrahan Mentok. Kata pesanggrahan berasal dari bahasa
Sansekerta yang artinya tempat peristirahatan. Pesanggrahan Mentok
dibangun sekitar tahun 1890 oleh perusahaan timah Belanda yang bernama Banka Tin Winning (BTW)
sebagai tempat peristirahatan pegawai yang bekerja di BTW. Pada
awalnya bangunan Pesanggarahan berupa bangunan yang terbuat dari kayu.
Pada tahun 1897 pernah dipakai sebagai
tempat pengasingan tokoh dari Kesultananan Surakarta yang menentang
Belanda bernama Pangeran Hario Pakuningprang. Pangeran ini adalah
seorang Susuhunan Sunan Paku Alam II yang ditugaskan Belanda untuk
berperang melawan pasukan Aceh dalam Perang Aceh. Namun pangeran itu
justru berpihak kepada pasukan Aceh untuk melawan Belanda. Akhirnya
Beliau ditangkap dan diasingkan ke Mentok. Belanda juga melarangnya
untuk berhubungan dengan masyarakat Mentok. Setelah selama 7 bulan
mengalami pengasingan, maka pada tanggal 18 Agustus 1897 wafat dan
dimakamkan di daerah Kebun Nanas.
Pada tahun 1924 Wisma Ranggam dibangun
kembali dengan tidak merubah bentuk dan ukuran. Selanjutnya pada tahun
1927 dilakukan perombakan-perombakan sehingga menjadi bentuknya yang
sekarang. Perancang dari bangunan itu adalah Antwerp J. Lokollo yang
berasal dari Ambon. Pada tahun 1930 dengan arsitek yang sama, BTW
membangun kolam renang untuk pegawai dan keluarganya dan umumnya hanya
orang-orang bule saja yang memakainya. Dikarenakan sumber air yang
dipergunakan untuk mengisi kolam berasal dari air terjun, maka kolam
renang itu bernama kolam renang air terjun.
Pesanggrahan Mentok menjadi data sejarah
karena digunakan sebagai tempat pengasingan pemimpin Kemerdekaan
Indonesia. Kekalahan Jepang oleh Sekutu dalam perang Dunia II dengan
dibomnya Hiroshima dan Nagasaki dimanfaatkan oleh Belanda untuk kembali
ke Indonesia. Pada tanggal 18 Desember 1949 Belanda melakukan serangan
ke Yogyakarta. Penyerangan tersebut yang dikenal sebagai Agresi Belanda
II menyebabkan Ibu Kota Negara RI Yogyakarta jatuh kepada Belanda pada
tanggal 19 Desember 1949. Para pemimpin RI ditangkap dan diasingkan ke
Kota Mentok. Rombongan pertama pada tanggal 22 Desember 1949 di
tempatkan di Pesanggrahan Menumbing, yaitu :
- Drs. M. Hatta, Wakil Presiden dan Perdana Menteri
- Mr. A.G. Pringodigdo, Sekretaris Negara
- Mr. Asa’at, BPKNIP
- Komodor Surya Darma
Pada tanggal 24 Desember 1949 sebuah
pesawat pembom B-26 membawa pemimpin Indonesia yang lain ke tempat yang
sama dengan rombongan pertama, terdiri dari :
- Mr. Ali Sastroamidjoyo, Menteri P dan K
- Mr. Moch. Roem, Ketua delegasi perundingan RI
Pada tanggal 6 Pebruari 1949 tawanan yang
menyusul dibawa ke Mentok dan ditempatkan di Pesanggrahan Mentok, yaitu
Presiden Ir. Soekarno dan H. Agus Salim, Menteri Luar Negeri.
Tokoh-tokoh yang kemudian ke Pesanggrahan Mentok adalah Mr. Moch. Roem,
dan Mr. Ali Sastroamidjojo. Dengan demikian pemimpin Indonesia yang
ditempatkan di Pesanggrahan Mentok berjumlah empat orang dengan
menempati kamar 12 adalah Ir. Soekarno, kamar 11 adalah H. Agus Salim,
kamar 12-A adalah Mr. Moch. Roem, dan kamar 1 adalah tempat Mr. Ali
Sastroamidjojo. Di Pesanggrahan Mentok tersedia mobil jenis sedan Ford
tipe Deluxe buatan tahun 1946 bernomor B-10. Pada saat itu urusan
pemerintahan Indonesia diserahkan kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Pesanggrahan Mentok juga menjadi tempat
perundingan antara Indonesia dan Belanda yang disebut Perundingan
Roem-Royen. Perundingan tersebut dihadiri Komisi Tiga Negara (KTN) yang
terdiri dari wakil-wakil dari Australia, Belgia, dan Amerika. Pertemuan
dihadiri pula wakil dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Bijen
Konvoor Federal overly (BFO). Anggota KTN yang hadir adalah Merle
Cochram, koetts, TK. Critcly, G. Mc. Kahin, Merremans, dan Prof. Lyle.
Perundingan menghasilkan antara lain kesepakatan bahwa pada tanggal 6
Juli 1949 semua pemimpin Indonesia dibebaskan dan kembali ke Yogyakarta.
Pada tahun 1976 terjadi penggantian nama
Pesanggrahan menjadi Wisma Ranggam di bawah penguasaan PT. Timah. Pada
tahun itu pula bagian depan diperbaiki. Pada tahun 1983 bagian depan
yang telah diperbaiki ditutup sama sekali sehingga untuk memasukinya
harus melalui pintu kecil. Hal itu sempat menimbulkan pro dan kontra
dari masyarakat. Kemudian oleh pimpinan PT. Timah pada saat itu
dikembalikan lagi ke bentuk aslinya. Sejak perbaikan terakhir pada tahun
1983 dengan melakukan penambahan-penambahan, maka Wisma Ranggam tidak
mengalami perombakan lagi.
Wisma Ranggam telah beberapa kali
mengalami perbaikan-perbaikan atau lebih tepatnya dengan istilah
pemugaran. Pemugaran adalah kegiatan yang bertujuan untuk mengembalikan
kedalam bentuk semula suatu bangunan peninggalan sejarah,tanpa merubah
bentuk,bahan,warna serta tata letak bangunan itu sendiri. Berdasarkan
pengertian tersebut maka Wisma Ranggam mengalami pemugaran secara benar
adalah pemugaran yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan
Purbakala Jambi tahun 2003. Adapun pemugaran–pemugaran yang dilakukan
sebelumnya hanyalah merupakan perbaikan-perbaikan secara umum yang
bersifat fungsional dan estiteka. Seperti yang dilakukan pada tahun 1976
perbaikan berupa penambahan ruang di beberapa bagian guna memenuhi
kebutuhan ruang saat itu. Begitu pula yang dilakukan tahun 1982.
Pemugaran yang dilakukan tahun anggaran
1998 oleh Kanwil Depdikbud Sumatera Selatan sesungguhnya bertujuan
melakukan kegiatan pemugaran yang sesungguhnya, namun data penunjang
untuk menggembalikan kedalam bentuk semula rupanya mengalami banyak
kendala, sehingga kegiatan yang dilakukan adalah merupakan penambahan
komponen bangunan yang berfungsi sebagai pencegahan kerusakan lebih
lanjut.
Deksripsi Bangunan
Wisma Ranggam terletak di Jalan Imam
Bonjol, Kelurahan Sungai Daeng, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka
Barat. Lokasinya berada di daerah yang tidak terlalu padat. Rumah-rumah
yang berdiri di samping tidak terlalu dekat. Bahkan dibagian depan atau
seberang jalan masih berupa kebun. Pada saat kegiatan berlangsung
sedang dilaksanakan pelebaran jalan. Hal itu menyebabkan daerah tersebut
lebih ramai dari sebelumnya.
Wisma Ranggam menempati lahan seluas 7.910 m2
berdasarkan Sertifikat Nomor 04.04.80.03.3.00118 yang dikeluarkan Badan
Pertanahan Nasional Kabupaten Bangka. Di atas tanah itu berdiri
bangunan-bangunan yang terdiri dari bangunan induk dan bangunan
pelengkap. Uraian bangunan-bangunan yang terdapat di Wisma Ranggam
sebagai berikut :
1. Bangunan Induk
Bangunan induk merupakan bangunan yang
paling besar dan letaknya berada di depan. Bangunan induk dan bangunan
dapur serta KM/WC telah dikembalikan kepada bentuk aslinya melalui
pemugaran tahun 2003. Berikut deskripsi bangunan induk yang meliputi
denah, lantai, dinding, pintu jendela, plafon (langit-langit) dan atap.
a. Denah
Denah merupakan gambar yang
menunjukkan bentuk tata ruang suatu bangunan serta kelengkapannya baik
berupa letak dan ukuran pintu maupun jendela. Denah bangunan induk
terdiri dari denah ruangan utama dan ruangan sayap yang berada di
bagian kiri dan kanan ruangan utama. Denah ruangan utama memiliki ukuran
panjang 32 meter dan lebar berukuran 15,6 meter, sedangkan ruangan
sayap masing-masing berukuran panjang 14 meter dan lebar 8 meter.
Bangunan induk memiliki 10 ruang yang berfungsi dan berukuran sebagai
berikut:
- Ruang C3 yaitu ruang yang sebagai tempat tidur Bungkarno berukuran 5,5 x 4 meter
- Ruang C2 yakni ruang tempat tidur KH. Agus Salim berukuran 6 x 4 meter
- Ruang C5 adalah tempat tidur Mr. Moh. Rum memiliki ukuran 5,5 x 4 meter
- Ruang C6 merupakan tempat tidur Mr. Ali Sastro Amidjojo berukuran 6 x 4 meter
- Ruang D3 merupakan ruang terusan ruang C3 berukuran 5,5 x 5 meter
- Ruang D2 adalah ruang terusan kamar KH. Agus Salim berukuran 5 x 4,5 meter
- Ruang E2 merupakan ruang terusan kamar Ali Sastroamidjojo berukuran 5 x 4,5 meter
- Ruang E3 adalah ruang yang menyatu dengan ruang Moh. Rum berukuran 5,5 x 5 meter
- Ruang pertemuan berukuran 9,5 x 6,5 meter
- Ruang tamu memiliki ukuran 6 x 6 meter
Ruangan Utama juga memiliki ruangan yang
diteruskan kebelakang sebagai ekor berukuran panjang 6,5 meter, lebar
5 meter yang berfungsi sebagai gudang dan teras belakang. Sedangkan
pada bagian ruangan sayap terdiri dari enam ruang yang memiliki ukuran
sebagai berikut:
- Ruangan sayap kiri yang terletak di sisi selatan memiliki 3(tiga) ruang dan berukuran masing–masing 4,5 x4,5 meter.
- Ruangan sayap kanan berada di
sisi utara juga memiliki 3(tiga) ruang berukuran sama yakni
masing-masing 4,5 x 4,5 meter.
b. Lantai
Lantai terbuat dari bahan tegel atau ubin
serta semen dan secara umum pada saat ini masih dalam kondisi baik.
Walaupun terdapat perbedaan dari jenis bahan, namun sebagian besar masih
menunjukkan keasliannya. Ubin lantai yang terdapat pada bagian selasar
kiri dan kanan bangunan induk terdiri dari bahan ubin pasiran yang
bermotif bunga. Sedangkan yang diruang lain berupa ubin polos dominan
warna kuning dan sebagian warna merah hati. Ubin lantai memiliki ukuran
20 x 20 cm. Pada saat sekarang ini lantai ruang bagian dalam ditutup
dengan karpet.
c. Dinding
Dinding merupakan komponen penting pada
suatu bangunan. Dinding juga merupakan pembatas suatu ruang/penyekat
yang berfungsi pula sebagai pengaman dan pencegah dari cuaca panas atau
dingin. Dinding terbuat dari pasangan batu merah atau bata yang
berplester ( tembok) yang memiliki ketebalan 30 cm yang dalam istilah
teknis dikenal pasangan satu batu, sedangkan ketinggian dinding bangunan
mencapai 5,50 meter.
d. Plafon
Bangunan induk secara keseluruhan
memiliki plafon yang terbuat dari bahan papan jenis kayu klas II yang
disusun memanjang dan pada setiap tepinya dipasang lis kayu berprofil.
Warna cat yang digunakan untuk plafon berwarna kuning muda. Pada
beberapa ruang diantaranya ruang C2, C3, E2, dan E3 pada setiap keempat
sudutnya terdapat lubang udara berdiameter 20 cm. dan masing-masing
lubang dipasang kawat anyaman. Tidak diketahui secara pasti fungsi
lubang-lubang tersebut sebagai penyerap udara atau hanya untuk variasi
belaka.
e. Pintu
Komponen yang paling penting lain pada
suatu bangunan adalah pintu karena fungsi pintu amat vital sebagai
jalan keluar masuk manusia atau barang. Jenis pintu yang terdapat pada
bangunan induk sedikitnya ada tiga jenis yaitu :
- Pintu tunggal, yaitu pintu yang hanya memilki satu daun pintu
- Pintu double, yaitu pintu pada setiap ibu pintu (kusen) terdapat dua daun pintu
- Pintu rangkap, yaitu pada suatu kusen terdapat dua atau lebih daun pintu pada sisi luar dan sisi dalam
f. Ventilasi
Ventilasi pada suatu bangunan memiliki
fungsi sebagai sarana pencahayaan juga berfungsi sebagai keluar
masuknya udara agar suhu ruang tetap dalam keadaan bersih dan segar.
Adapun bentuk dari pada ventilasi adalah sangat beragam, tergantung
selera pemilik bangunan bersangkutan. Namun belakangan ini ventilasi
bukan hanya merupakan sarana konvensional belaka namun sudah merupakan
gaya atau trend yang memiliki daya tarik dan pemanis suatu bangunan
rumah tinggal atau gedung kantor dan sebagainya.
Ventilasi yang terdapat pada bangunan
induk memiliki beberapa bentuk dan bahan, dibedakan menurut tempat,
yaitu ventilasi dapat berdiri sendiri atau menyatu dengan kusen pintu
atau jendela. Ditinjau dari bahan pembuatannya ventilasi yang terdapat
di bangunan ini menggunakan bahan-bahan : kayu, kaca dan cetakan semen
sedangkan bentuknya juga bervariasi ada yang membentuk garis belah
ketupat, bentuk garis salib saling menyilang serta ada yang lingkaran
ditengahnya.
g. Atap
Atap adalah komponen-komponen yang
disusun sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi sebagai pelindung dan
secara struktural dapat menerima dan meneruskan beban yang mengenainya.
Atap terdiri dari rangka atap dan penutup atap: adapun rangka atap
terdiri dari kasau, reng serta gording dan jurai sebagai pembentuk atap,
sedangkan penutup atap sangat beragam mulai dari bahan logam buatan
pabrik sampai bahan kayu sirap dan genteng dari bahan tanah liat atau
keramik. Bentuk atap bangunan induk adalah atap limas pada bangunan
induk sedangkan pada bangunan samping berupa atap pelana. Adapun bahan
atap adalah genteng tanah berbentuk huruf ”S”
2. Bangunan Pelengkap
Bangunan pelengkap merupakan bangunan
yang terdapat di belakang sisi Barat dan berfungsi sebagai kamar tidur,
dapur, gudang, dan KM/WC. Termasuk di dalamnya adalah menara air, sumur,
dan rumah mesin. Bangunan berukuran 3 x x 22,50 meter. Sedangkan
ruangan yang paling ujung dan tidak lurus dengan ruangan lainnya
berukurun 3,50 x 4,85 meter. Bangunan memiliki delapan ruang terdiri
dari 1 buah untuk kamar tidur, dapur dan gudang, 2 buah kamar mandi,
2 buah WC, serta 1 buah kamar cuci.
Kebutuhan air untuk keperluan penghuni
Wisma Ranggam didapatkan dari air yang terdapat di dalam sumur dengan
kedalaman sekitar 5 meter. Kondisinya sekarang bagian bibir sumur yang
terbuat dari beton berdiameter 2,50 meter terbuat dari pasangan bata
yang tebalnya 45 cm dan tinggi 80 cm dalam posisi miring. Sedangkan
untuk menampung air berupa kotak terbuat dari besi yang didukung dengan
kerangka penyangga dari 4 buah pipa besi berdiameter 25 cm, jarak tiang
4,5 meter, dan tinggi menara 5 meter. Namun kondisinya sekarang hanya
tersisa bagian fondasi tiang berjumlah empat buah berukuran 2 x 2
meter.
Sementara itu untuk kebutuhan listrik
dihasilkan dari mesin yang ditempatkan di rumah mesin. Lokasinya di
bagian belakang agak jauh dari menara air dan sumur. Ruang mesin
digunakan untuk menempatkan diesel sebagai alat untuk menghidupkan
listrik. Ruang mesin berdenah bujursangkar berukuran 2,5 x 2,5 meter
dan tingginya 1,5 meter. Bangunan seluruhnya terbuat dari pasangan bata
dan perekat semen.
ITU ADALAH BEBERAPA WISATA DI BANGKA BARAT MASIH BANYAK YANG LAINNYA LHO,JANGAN RAGU BERTANYA SAYA AKAN MENJAWAB JIKA BISA DI JAWAB :)
VISIT BANGKA BELITUNG ISLAND






Tidak ada komentar:
Posting Komentar