“Kepunan” Adat Bangka
Pernah mendengar istilah PAMALI ?
Bukan Bang Mali lho …
Pastinya hampir seluruh masyarakat di Indonesia mengenal istilah tersebut. Namun uniknya, adat dan kebiasaan yang berlangsung turun temurun sejak jaman neneknya moyang itu terus berlangsung hingga sekarang.
Seperti halnya Pamali, Tabu, Pantangan dan semacamnya di Bangka lebih dikenal kata-kata dengan sebutan arus, kepunan atau kepon, malet dan lainnya (bahasa bangka).
Untuk kepon (kepunan) dan malet merupakan satu rangkaian adat dan kebiasaan bangka. Agak susah juga untuk didefinisikan lebih jelas. Pada dasarnya kedua kata itu (kepon dan malet) terdapat pada seperti uraian dibawah ini.
Tidaklah baik kamu menolak makan/minum ataupun sekedar mencicipi suatu makanan/minuman yang disuguhkan orang lain. Hal ini telah menjadi suatu kebiasaan yang telah lama melekat dalam adat istiadat masyarakat Bangka Belitung.
Terlebih lagi bila kita akan pergi ke sungai, hutan, laut, atau kemana saja. Imbas dari sikap kita yang “kalo” tidak mencicipi makanan/minuman tersebut, kadangkala dan sering terjadi hal-hal yang bisa mendatangkan musibah. Katakanlah nasib sial akan mengikuti kita. Misalnya mengalami kecelakaan, bertemu hantu, digigit binatang buas/berbahaya dan lainnya.
Menurut masyarakat Bangka, kejadian yang berlatar akibat kepon itu sudah banyak sekali terjadi. Contoh kongkritnya banyak berupa kecelakaan dan berbagai musibah lain. Di desa Perlang, Kabupaten Bangka Tengah, dulu pernah terjadi seorang warga yang disambar buaya setelah istrinya menawari (menyuruh) untuk makan nasi bubur yang sudah disiapkannya ketika jam makan (siang hari).
Bukan Bang Mali lho …
Pastinya hampir seluruh masyarakat di Indonesia mengenal istilah tersebut. Namun uniknya, adat dan kebiasaan yang berlangsung turun temurun sejak jaman neneknya moyang itu terus berlangsung hingga sekarang.
Seperti halnya Pamali, Tabu, Pantangan dan semacamnya di Bangka lebih dikenal kata-kata dengan sebutan arus, kepunan atau kepon, malet dan lainnya (bahasa bangka).
Untuk kepon (kepunan) dan malet merupakan satu rangkaian adat dan kebiasaan bangka. Agak susah juga untuk didefinisikan lebih jelas. Pada dasarnya kedua kata itu (kepon dan malet) terdapat pada seperti uraian dibawah ini.
Tidaklah baik kamu menolak makan/minum ataupun sekedar mencicipi suatu makanan/minuman yang disuguhkan orang lain. Hal ini telah menjadi suatu kebiasaan yang telah lama melekat dalam adat istiadat masyarakat Bangka Belitung.
Terlebih lagi bila kita akan pergi ke sungai, hutan, laut, atau kemana saja. Imbas dari sikap kita yang “kalo” tidak mencicipi makanan/minuman tersebut, kadangkala dan sering terjadi hal-hal yang bisa mendatangkan musibah. Katakanlah nasib sial akan mengikuti kita. Misalnya mengalami kecelakaan, bertemu hantu, digigit binatang buas/berbahaya dan lainnya.
Menurut masyarakat Bangka, kejadian yang berlatar akibat kepon itu sudah banyak sekali terjadi. Contoh kongkritnya banyak berupa kecelakaan dan berbagai musibah lain. Di desa Perlang, Kabupaten Bangka Tengah, dulu pernah terjadi seorang warga yang disambar buaya setelah istrinya menawari (menyuruh) untuk makan nasi bubur yang sudah disiapkannya ketika jam makan (siang hari).





