Welcome

SELAMAT DATANG DI BLOG PRIBADI SAYA TERIMAKASIH TELAH BERKUNJUNG

Minggu, 12 Oktober 2014

“Kepunan” Adat Bangka

 

Pernah mendengar istilah PAMALI ?
Bukan Bang Mali lho …
Pastinya hampir seluruh masyarakat di Indonesia mengenal istilah tersebut. Namun uniknya, adat dan kebiasaan yang berlangsung turun temurun sejak jaman neneknya moyang itu terus berlangsung hingga sekarang.
Seperti halnya Pamali, Tabu, Pantangan dan semacamnya di Bangka lebih dikenal kata-kata dengan sebutan arus, kepunan atau kepon, malet dan lainnya (bahasa bangka).
Untuk kepon (kepunan) dan malet merupakan satu rangkaian adat dan kebiasaan bangka. Agak susah juga untuk didefinisikan lebih jelas. Pada dasarnya kedua kata itu (kepon dan malet) terdapat pada seperti uraian dibawah ini.
Tidaklah baik kamu menolak makan/minum ataupun sekedar mencicipi suatu makanan/minuman yang disuguhkan orang lain. Hal ini telah menjadi suatu kebiasaan yang telah lama melekat dalam adat istiadat masyarakat Bangka Belitung.
Terlebih lagi bila kita akan pergi ke sungai, hutan, laut, atau kemana saja. Imbas dari sikap kita yang “kalo” tidak mencicipi makanan/minuman tersebut, kadangkala dan sering terjadi hal-hal yang bisa mendatangkan musibah. Katakanlah nasib sial akan mengikuti kita. Misalnya mengalami kecelakaan, bertemu hantu, digigit binatang buas/berbahaya dan lainnya.
Menurut masyarakat Bangka, kejadian yang berlatar akibat kepon itu sudah banyak sekali terjadi. Contoh kongkritnya banyak berupa kecelakaan dan berbagai musibah lain. Di desa Perlang, Kabupaten Bangka Tengah, dulu pernah terjadi seorang warga yang disambar buaya setelah istrinya menawari (menyuruh) untuk makan nasi bubur yang sudah disiapkannya ketika jam makan (siang hari).


OBJEK WISATA DI BANGKA BARAT


Hay Blogger'S Kali Ini Saya akan Memposting beberapa Objek Wisata di bangka Barat,Ayo Di Baca Yah



Mercusuar Tanjung Kalian


Mercusuar yang berdiri tegar dan kokoh di Tanjung Kalian adalah sebuah sarana penyelamat lalu lintas kapal yang di bangun oleh Belanda pada tahun 1862. Mercusuar ini memiliki ketinggian lebih kurang 65 m dan terdiri dari 16 pantai. Dari puncak menara, keindahan se keliling dapat terlihat. Ke arah barat, tampak Pantai Tanjung Kalian dengan pasir yang putih sepanjang lebih kurang 5 km. Ke sebelah timur, tampak pelabuhan tua kota Muntok. Di waktu malam, sinar lampu mercusuar ini dapat terlihat dengan jelas dengan radius 5 km dari arah laut, sebagai markas jalur kapal-kapal yang melintas.


Pesanggerahan Menumbing









Bangunan Pesanggrahan Menumbing terletak di Bukit Menumbing, Muntok kab. Bangka Barat, sebuah kastil yang dibangun pada masa penjajahan Belanda di ketinggian 445 m dpl. Komplek villa atau pesanggrahan peristirahatan pegawai perusahaan timah Banka Tinwinning bedriff ini diperkirakan dibangun pada tahun 1927. Tempat ini dulu dijadikan tempat pengasingan tokoh-tokoh kemerdekaan (Bung Hatta, Mr. Pringgodigdo, Komodor Surya Darma, Mr. Asa'at,  Mr. Ali Sastroamidjojo, Mr. Moch Roem, sejak tanggal 22 Desember 1948 s.d. 7 Juli 1949 pada masa pasca kemerdekaan RI. Pesanggrahan ini memiliki dua bangunan utama dan didukung dengan beberapa fasilitas umum, seperti penginapan, lapangan tenis, karaoke keluarga, sport track, kolam renang.

Sembahyang Rebut (Chit Ngiat Pan) di Bangka Belitung

 

Sembahyang Rebut (Chit Ngiat Pan) merupakan salah satu warisan budaya Tionghoa yang jatuh pada bulan 7 tgl 15 kalender cina, Sembahyang Rebut masih dilakukan hingga kini. Adat kepercayaan warga Tionghoa mempercayai bahwa pada Chit Ngiat Pan pintu akherat terbuka lebar dimana arwah-arwah yang berada di dalamnya keluar dan bergentayangan. Arwah-arwah tersebut turun ke dunia ada yang pulang ke rumah keluarganya ada pula yang turun dengan keadaan terlantar dan tidak terawat, sehingga para manusia akan menyiapkan ritual khusus untuk diberikan kepada arwah yang terlantar tersebut. Selain itu juga disediakan rumah-rumahan yang terbuat dari kertas, uang dari kertas dan baju-baju dari kertas pula rumah-rumahan, uang dan baju-baju tersebut yang memang diperuntukkan bagi para arwah.

Kamis, 09 Oktober 2014

Pulau Bangka Belitung adalah sebuah provinsi yang namanya diambil dari dua  kepulauan yaitu Bangka dan Belitung yang telah lama dikenal sebagai penghasil timah terbesar di Indonesia dan memiliki pesona alam pantai yang mengagumkan. Selain dua pulau besar juga ada pulau-pulau kecil seperti Pulau Lepar, Pulau Pongok, Pulau Mendanau dan Pulau Selat Nasik, total pulau yang telah bernama berjumlah 470 buah dan yang berpenghuni hanya 50 pulau.
Kepulauan Bangka Belitung memiliki Iklim tropis yang dipengaruhi angin musim yang mengalami bulan basah selama tujuh bulan sepanjang tahun dan bulan kering selama lima bulan terus-menerus.
Pulau Bangka terletak di sebelah pesisir timur Sumatera bagian Selatan yaitu 1°20’-3°7 Lintang Selatan dan 105° - 107° Bujur Timur memanjang dari Barat Laut ke Tenggara sepanjang  kurang lebih 180 km. Pulau ini terdiri dari rawa-rawa, daratan rendah, bukit-bukit dan puncak bukit terdapat hutan lebat, sedangkan di daerah rawa terdapat hutan bakau. Rawa daratan pulau Bangka tidak begitu berbeda dengan rawa di pulau Sumatera, sedangkan keistimewaan pantainya dibandingkan dengan daerah lain adalah pantainya yang landai berpasir putih dengan dihiasi hamparan batu granit. Bangka Belitung menawarkan Anda wisata bahari seperti menyelam, snorkeling, memancing dan berlayar.